Kasih Anda Dapat Merubah Masa Depan Mereka  
 
 

Klik Gambar Untuk Jadi Orang Tua Asuh

 
 
Kunjungan Wakil Gubernur DKI :
Anak Panti Asuhan Parapattan Jangan Berkecil Hati



Keberadaan Panti Asuhan Parpattan yang berdiri sejak 27 Oktober tahun 1832 sebagai salah satu lembaga sosial harus tetap dipertahankan dan terus ditingkatkan peranannya di ibu kota.

Panti Asuhan yang didirikan oleh seorang pendeta berkebangsaan Inggris dengan nama Walter Henry Med Hurst telah banyak mengasuh dan memberi pendidikan, sehingga memberikan kontribusi positif kepada kota Jakarta dan berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

"Panti asuhan Parapattan sangat dibutuhkan oleh anak-anak yang memang memerlukan bantuan. Panti asuhan ini itu juga membantu meringankan tugas yang seharusnya menjadi kewajiban pemerinah yaitu memelihara anak-anak terlantar," ujar Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto saat menghadiri acara ulang tahun Panti Asuhan Parapattan ke-175 tahun, Jumat (26/10) malam Jl Otista III No. 23 Jatinegara Jakarta Timur.

Prijanto berpesan agar anak-anak panti asuhan tidak berkecil hati dengan keberadaan mereka. Sebab, menurut mantan Aster KASAD ini, banyak sejarah orang-orang besar yang berawal dengan kehidupan susah dan kurang beruntung.

"Jika ingin sukses, harus terus belajar, dan fokus pada apa yang di cita-citakan. Menurut kepada pengasuh dan jangan terpengaruh pada kehidupan negatif seperti menggunakan narkoba," pesanya.

Sementara itu Ketua Pengurus Panti Asuhan Parapattan Willem F Laoh berharap kepada pemerintah agar dapat terus meningkatkan kerja sama yang selama ini telah berjalan, khususnya dalam bidang pembinaan dan pendidikan.

"Kita minta agar akses mereka dipermudah dan diberikan keringanan agar mendapat pendidikan yang layak dan berkualitas, serta mewujudkan anak-anak yang mandiri.
Karena mereka adalah investasi bagi bangsa ini," ucapnya.


Menurut sejarahnya, latar belakang berdirinya Panti Asuhan Parapattan karena rasa kepedulian dan keprihatinan Henry terhadap keberadaan anak-anak hasil dari kawin campur yang dilakukan tentara Inggris maupun Belanda dengan wanita pribumi.
Istri dan anak-anak tersebut menjadi terlantar ketika ayah mereka selesai bertugas di Batavia dan harus kembali ke negeri asalnya.

Penulis: purwoko
Sumber: purwoko


Anda tertarik untuk menjadi sponsor?
Silahkan hubungi:
panti@parapattan.org
Copyright © 2006 Yayasan Parapattan - Powered by Interdenom